Berita

PMK di Kecamatan Pudak Akibatkan Kerugian Hingga 19 Miliar

Penyakit Mulut dan Kuku atau yang lebih akrab dikenal sebagai PMK dewasa ini telah menyebar dengan sangat cepat di beberapa wilayah di Indonesia, wabah PMK ini sendiri disebabkan oleh virus yang media penularannya bermacam – macam, seperti hewan, manusia, benda, serta angin. Yang lebih mengerikan lagi, virus ini dapat menular melalui angin dalam radius 250 kilometer. Dampak pada hewan ternak yang terpapar selain air liur berlebih, nafsu makan berkurang serta suhu badan yang tinggi adalah kuku sapi dapat membusuk dan terlepas yang berpotensi tinggi menyebabkan kelumpuhan serta kematian. Penyebaran wabah ini merambah sampai ke salah satu kecamatan di kabupaten Ponorogo yakni kecamatan Pudak.

 

Di Pudak sendiri terdapat dua daerah yang persebaran wabahnya lebih menonjol akibat populasi ternak yang lebih padat dibandingkan daerah lain. Daerah ini merupakan Pudak bagian timur dan barat. Menurut data gugus tugas kecamatan pudak, ternak yang telah terpapar wabah pmk ini mencapai 6.364 ekor. Dalam data ini, sapi yang mati dibedakan dengan sapi yang mati murni akibat PMK serta yang mati karena kebijakan potong paksa atau bersyarat. Untuk jumlah sapi yang mati murni akibat wabah adalah 565 ekor, jumlah tersebut sudah termasuk sapi dewasa serta anakannya. Sementara yang mati karena dipotong paksa atau bersyarat adalah 409 ekor, yang berarti jumlah keseluruhan dari semua ternak mati adalah sekitar 974 ekor. Apabila dihitung secara rata – rata, kerugian yang ditanggung oleh para peternak di wilayah ini mencapai angka 19 miliar rupiah. Fenomena ini tentunya sangat memberatkan para peternak Pudak mengingat kebanyakan dari mereka merintis usaha dengan modal awal pinjaman bank sehingga dalam keadaan tidak adanya pemasukan seperti saat ini mengangsur pinjaman tentunya sangat tidak mungkin.

 

“Itulah bagian dari tugas kami. Setelah mengetahui kondisi kecamatan Pudak yang memprihatinkan, kami kemudian berusaha untuk membicarakan terkait pinjaman masyarakat ini kepada pihak bank serta koperasi dan Alhamdulillah kami mendapatkan skema terkait pinjaman mengenai restrukturisasi pinjaman maupun restruct ya InsyaAllah kalau sesuai kesepakatan masyarakat akan diberikan kelonggaran untuk tidak melakukan angsuran selama 6 Bulan. Terkait dengan Idul Adha juga, sepertinya tidak masalah karena jumlah sapi yang masih sehat disini juga masih mencukupi untuk dijadikan hewan qurban.” terang Camat Suwadi yang kami wawancarai pada 5 Juli 2022 kemarin.

 

Kebijakan pemerintah kecamatan Pudak sudah dimulai sejak dini bahkan sebelum masuknya wabah ke wilayah Pudak. Upaya yang dilakukan meliputi memberikan masyarakat pemahaman mengenai penyakit ini dan cara penanggulangannya, hal ini dilakukan sebagai upaya preventif supaya tidak terjadi penularan di wilayah Pudak. Namun sayangnya dikarenakan oknum tidak bertanggung jawab yang melanggar protokol kesehatan hewan, akibatnya wilayah ini tetap saja harus terkena dampak wabah PMK. Pertama kali wabah ini muncul di pudak, terdapat dua ekor sapi yang menjadi carrier virus di wilayah pudak timur. Akibat cepatnya penularan virus melalui udara serta didukung cuaca di Pudak yang cocok untuk perkembang biakan virus, akhirnya kasus tersebut meningkat hingga menjadi 6.364 ekor dalam hitungan bulan. Menyikapi hal ini, pemerintah kecamatan Pudak langsung cepat tanggap membentuk gugus tugas serta mengupayakan pengobatan terhadap ternak – ternak yang telah terpapar.

 

Namun karena terbatasnya supplier serta jumlah obat yang tidak memungkinkan bila dibagikan secara merata, beberapa warga kemudian memilih mengobati sapi atau ternak mereka dengan pengobatan alternatif yakni menggunakan beberapa tanaman herbal yang terbuat dari temulawak serta kunyit sembari menunggu pasokan obat berikutnya datang. Bantuan pemerintah sendiri berupa vaksin, suntik vitamin serta antibiotik yang turun di hari ke – 12 persebaran virus. Vaksin ini di dapat dari kabupaten serta kelompok peternak susu, sementara bantuan vaksin dari dinas peternakan sendiri khusus diberikan hanya untuk sapi merah atau sapi potong. Sapi yang divaksin sendiri hanyalah sapi sehat yang sama sekali belum terpapar, sementara untuk sapi yang telah terpapar dan menunjukkan beberapa gejala awal menunggu pemulihan selama 6 bulan terlebih dahulu sebelum bisa divaksin. Sembari menunggu, beberapa warga melakukan perawatan pada sapi – sapinya dengan cara menyemprotkan disinvektan 3 kali sehari serta memberikan obat herbal.

 

Imbas yang ditanggung oleh para peternak akibat wabah ini diantaranya merupakan penurunan harga sapi yang anjlok parah hingga menyentuh  kisaran harga 5 – 3 juta serta produktivitas susu yang juga ikut turun, “Produktivitas susu sangat berkurang, dari awalnya bisa mencapai 18 – 20 liter per hari sekarang paling banyak hanya 2 liter, Produktivitas susu yang menurun ini diakibatkan oleh nafsu makan yang hilang serta suhu badan tinggi, bisa mencapai 40 – 41 derajat. susu atau segala jenis bahan olahan dari hewan terpapar sebenarnya dapat tetap dikonsumsi oleh manusia, namun akan lebih baik jika direbus terlebih dahulu dalam suhu kurang lebih 60 derajat untuk membunuh virus yang terkandung di dalamnya. Namun mohon diperhatikan juga untuk limbah pengolahan sapinya, karena limbah yang tidak diurus dengan baikdan tidak diberi disinvektan sebelum dibuang nantinya dapat menyebar ke ternak yang lain.” ujar Pak Harianto, salah satu peternak sapi perah di wilayah Pudak. Dengan adanya upaya dari pemerintah serta para peternak yang terus semangat memerangi wabah PMK ini diharapkan keadaan akan segera membaik.

 

Penulis : Brilian Mustika Ayu Maharani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.